Memories of the Present" oleh Julian Stallabrass
DALL-E prompt: a photorealistic image of a homeless person, a businessman and a book-lover sharing the same bench outside a bookshop in London, 50mm lens, Kodachrome, f4
Artikel "Memories of the Present" oleh Julian Stallabrass yang diterbitkan di New Left Review (NLR) 148, Juli-Agustus 2024, membahas pengaruh kecerdasan buatan (AI) terhadap budaya visual, khususnya dalam fotografi. Stallabrass mengeksplorasi bagaimana AI, melalui algoritma dan model difusi, mengolah, menyaring, dan bahkan menghasilkan citra, menciptakan efek "anti-entropi" yang mengakibatkan penurunan kompleksitas dan peningkatan klise dalam budaya visual.
Beberapa poin penting dalam artikel ini:
- AI dan "Anti-Entropi": Stallabrass mendefinisikan "entropi" dalam konteks ilmu informasi, di mana entropi tinggi berarti informasi yang lebih banyak. AI, khususnya model difusi seperti Dall-E, dilatih untuk menghilangkan "noise" atau kompleksitas dari gambar, sehingga menghasilkan citra yang lebih halus, lebih standar, dan lebih mudah dipahami oleh manusia.
- Cliché dan Déjà Vu: AI, dengan kecenderungannya untuk menghasilkan citra yang "terlalu bersih" dan "terlalu familiar", memicu perasaan déjà vu dan memperkuat klise dalam budaya visual. Stallabrass menghubungkan hal ini dengan "rumah susun mental" yang digambarkan oleh Bill McKibben, di mana budaya kapitalis mendorong produksi karya-karya yang konformis dan mudah dicerna.
- Penangkapan "Intelek Umum": AI tidak hanya menangkap pengetahuan teknis, tetapi juga mencerminkan hubungan sosial, termasuk prasangka dan bias yang tertanam dalam data pelatihannya. Stallabrass mempertanyakan bagaimana AI, dalam upayanya untuk "menangkap intelek umum," juga menangkap bias-bias tersebut.
- Mediascape dan Flusser: Stallabrass menghubungkan argumennya dengan teori Vilém Flusser, khususnya konsep "mediascape" yang menggambarkan fotografi sebagai sebuah ruang kemungkinan yang sudah ditentukan oleh alat kamera. AI, menurut Stallabrass, mewujudkan pandangan Flusser tentang fotografi sebagai "kemungkinan yang terealisasi secara buta".
- Masalah dan Solusi: Stallabrass menyoroti bahaya AI dalam menciptakan budaya visual yang monoton dan dipenuhi klise. Dia mempertanyakan peran "patrician" dalam memelihara budaya visual yang kompleks, dan memperingatkan tentang risiko monopoli media dalam mengendalikan AI untuk mengontrol dan memanipulasi pengguna.
Kelebihan Artikel:
- Analisis yang mendalam: Artikel ini memberikan analisis yang komprehensif tentang hubungan rumit antara AI, budaya visual, dan klise.
- Penggunaan konsep yang menarik: Stallabrass memanfaatkan konsep seperti "entropi," "déjà vu," dan "intelek umum" untuk menjelaskan fenomena yang kompleks.
- Referensi yang luas: Artikel ini didukung oleh referensi yang luas dari berbagai bidang, termasuk teori informasi, filsafat, teori media, dan kritik budaya.
- Pembahasan yang provokatif: Stallabrass mengangkat pertanyaan-pertanyaan kritis tentang masa depan budaya visual dan peranan AI dalam membentuknya.
Kekurangan Artikel:
- Bahasa yang rumit: Artikel ini menggunakan bahasa akademis yang kompleks, yang mungkin sulit dipahami oleh pembaca awam.
- Kekurangan solusi yang konkret: Meskipun mengangkat masalah penting, artikel ini tidak memberikan solusi yang jelas untuk mengatasi dampak AI terhadap budaya visual.
Kesimpulan:
Artikel "Memories of the Present" oleh Julian Stallabrass adalah sebuah esai yang menarik dan provokatif yang memberikan perspektif penting tentang pengaruh AI terhadap budaya visual. Stallabrass menunjukkan bagaimana AI, melalui algoritma dan model difusi, dapat mengarah pada penciptaan budaya visual yang lebih monoton, dipenuhi klise, dan dikontrol oleh monopoli media. Artikel ini merupakan titik awal yang baik untuk merenungkan implikasi etis dan sosial dari perkembangan AI dalam budaya visual.
_________________
Article:https://newleftreview.org/issues/ii148/articles/julian-stallabrass-memories-of-the-present_____________
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar